(FAQ): Kenapa sih gak jadi PNS aja?

Hallo, kali ini saya mau curhat sedikit. Temanya adalah tentang FAQ atau frequently Asked Question: Kenapa sih gak jadi PNS aja?

Setiap lebaran kalau ketemu sanak Family pasti selalu dapet pertanyaan itu.

X: Mba Etha sekarang kerja dimana? 

Sy: di pusat kebudayaan Jerman, Pakde.(Percuma, disebut namanya juga Orang awam gak akan tau). Saya jadi guru bahasa Jerman di situ.

X: Loh, kenapa gak ngajar di sekolah aja sih? Siapa tau kan bisa diangkat jadi PNS.

Sy: hmm..iya sih pakde, bagus. Tapi pengalaman temen saya ya, sudah ngajar di sekolah 8 tahun lebih, gak diangkat2 juga tuh.

X: yah, mbak Etha. Rejeki orang kan berbeda-beda. Siapa tau begitu mba Etha masuk, langsung diangkat jadi PNS kan.

Sy: yah iya sih Pakde, tapi kesempatannya kayaknya jarang banget deh. (Gak mau kalah kasih jawaban skak mat aja). Lagipula disini saya sudah lumayan enak kok Pakde. Kemaren aja diberangkatin ke Jerman.

X: iya sih ya, gajinya gaji Jerman.

Hmm..positif thinking aja, di dunia ini Kita udah berbuat bener aja masih ada Orang yang suka kommentar. Ya, saya tau sih maksudnya Pakde saya tuh menasehati saya, karena sayang dan memikirkan masa depan saya. Seperti kita ketahui, kalau menjadi PNS masa tua kita akan terjamin. Bener banget.

Tapi sekali lagi saya percaya, bahwa rejeki sudah ada yang mengatur. Asal kita mau berusaha, Allah SWT pasti memberi jalan. Ya, memang saya kerja di sini di kontrak per 2 tahun dan diperpanjang, jika masih sesuai permintaan perusahaan. Kuncinya buat saya, jaga kepercayaan. Kita bekerja sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya. Allah gak buta kok. Alhamdulillah ada saja rejeki dari pintu-pintu lain.

Dan satu lagi alasan saya, mengapa saya sangat senang menjadi guru di sini. Karena itu sudah cita-cita saya sejak di bangku kuliah. Saat itu saya masih di tingkat 3, harus melakukan Praktik mengajar di SMA. Setelah ya saya melakukan hospitasi mengajar di Goethe. Saya begitu kagum melihat fasilitas di kelas yang sangat memadai dan menunjang kegiatan belajar mengajar. Pada saat itu saya merasa, bahwa Goethe Institut adalah Rolle Modell saya untuk mengajar.

Kemudian saya melakukan Praktikum di sebuah SMA. Dimana 1 kelas berisi 40 siswa Dan tidak semuanya mempunyai Minat terhadap bahasa Jerman. Kebayang dong, kita cape-capek berkoar-koar di kelas, yang perhatiin cuma 1 atau 2 anak. Yang lain sibuk Main HP. Ketika saya mengajar di sini ada perasaan bahagia tersendiri. Kepuasan terhadap apresiasi semangat belajar anak-anak di kelas. (Walaupun masih Ada juga yang minatnya kurang, mungkin karena dipaksa Orang tuanya, bisa jadi). Dikelas hanya terdiri dari maximal 24 anak, dengan fasilitas KBM yang sangat baik. Saya hanya bisa berucap, maka nikmat Tuhan manalagi Yang kau dustakan.

Yang penting perkerjaan ini adalah pekerjaan Yang sesuai dengan hati dan perasaan saya. Walaupun perjalanan cukup jauh dari rumah dengan perjuangan mendapatkan tempat duduk di KRL atau bermacet-macet ria dengan kendaraan pribadi. Yang penting, jaga selalu amanah terhadap pekerjaan kita, do your best. Nasihat juga buat para PNS, Allah sudah mengamanahkan kamu pekerjaan Yang bagus, yang dielu-elukan hampir setiap orang di Indonesia. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Kalian digaji Oleg rakyat, layani masyarakat Yang sudah menggajimu dengan baik. Okay

Advertisements

Pengalaman Puasa di Jerman

Marhaban yaa Ramadhan.

Selamat datang bulan suci Ramadhan. Bulan yang dirindukan umat muslim, bulan yang menjadi ladang pahala karena setiap ibadah kita dilipatgandakan kebaikannya.

Kali ini saya mau bercerita bagaimana pengalaman saya menjalankan ibadah puasa di Jerman. 

Juni, 2014

Memasuki waktu musim panas, dimana matahari bersinar lebih lama dibandingkan dengan musim-musim lain nya. Waktu saat jam 21.00 malam, matahari masih terang berderang. Bagaimana menjalankan puasa di bulan Ramadhan? 

Sebagai umat Muslim, waktu berbuka puasa adalah saat matahari sudah terbenam. Jadi saat itu, saya baru bisa buka puasa sekitar pukul 22.00, sementara pukul 03.00 sudah memasuki waktu Shubuh. Berarti saya harus sahur sekitar pukul 02.00. Terkadang saya hanya memakan Roti dengan selai untuk sahur(jika sedang malas memasak), bahkan terkadang sama sekali tidak sahur. Jadi total saya harus menjalankan puasa selama kurang lebih 18 jam. Luar biasa. Orang Jerman sampai begitu mengkhawatirkan saya, mereka takut kalau sampai saya mengalami dehidrasi. Bayangkan orang tidak minum selama 18 jam.

Lalu bagaimana dengan sholat Isya dan tarawih? Waw luar biasa, waktu isya sekitar pukul 23.00. Terkadang saya terlalu lelah untuk menjalankan ibadah tarawih. (Jangan dicontoh ya, saya salut dengan Muslim di Jerman yang benar2 taat menjalankan ibadah nya).

Kuat ga menjalankan puasa nya?

Kalau dicoba, inshaallah kuat. Tetapi saat itu saya juga pernah mengalami rasa haus luar biasa, jadi terpaksa saya minum. Sekali lagi, saya bukan Muslim yang benar-benar taat. Ampuni hambaMu ini ya Allah. 

Bagaimana dengan menu berbuka puasa?

Jawab: seadanya. Disinilah saya merasa benar-benar sedih. 😦 buka puasa sendirian, kangen gorengan, lontong, es buah. Bisa sih bikin, kadang bikin seadanya aja. Tapi rasa nikmatnya jauh berbeda sama saat berbuka puasa di Rumah, dimana banyak hidangan yang kadang bikin kalap. Sesekali juga saya mengunjungi Rumah teman untuk memasak bersama masakan Indonesia. Tapi karena saya bukan tinggal di kota besar, jadi jarang sekali bisa berkumpul. Kenapa? Karena harga tiket kereta yang muahal. Untuk yang tinggal di kota besar mungkin bisa sering berbuka puasa bersama. 

Sekali lagi selamat menjalankan ibadah Puasa bagi semua umat Muslim, terutama yang sedang berada di Jerman, atau belahan bumi lainnya, dimana waktu puasa lebih lama dibandingan dengan di Indonesia.

Kenapa Harus Drama Korea?

Guten Abend Leser und Leserinnen! 🙂

Hari ini aku mau nulis soal Drama Korea, gapapa ya menyimpang sedikit dari Jerman :p. 

Di sini ada yang suka nonton Drama Korea ga? Atau mungkin malah Fans berat. Sama dong. Toss dulu kita.

Kenapa sih banyak orang suka menonton Drama Korea?

Hmm…buat saya pribadi, saya memang dari kecil sudah suka sama Drama Korea. Dari mulai Endless love yang berhasil menguras air mata T.T, sampe Full House yang kocak. 

Tapi Drama Korea sempet vacum di Indonesia, sampai mulai booming lagi waktu Drama BBF muncul. Dari situlah.. Makin banyak yang ditayangkan di television swasta Indonesia. 

Kenapa sih orang2 suka nonton Drama Korea?

 Bosen Dengan Sinetron yang Monoton

Buat saya pribadi, tayangan ini sangat menghibur. Terus terang saya sangat bosan dengan sinetron2 yang ada di TV, ceritanya makin aneh2 dan hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas. Kalau dibandingkan dengan drakor yang memang sudah terkonsep saat pembuatannya. Jelas bagaimana awal dan endingnya. Biasanya terdiri dari 15-22 atau lebih Episode. 

Banyak Belajar Ilmu Baru

Selain itu, saya pribadi banyak belajar dunia baru. Misalnya, saat saya nonton I Hear Your Voice saya jadi bisa tau sedikit mengenai dunia hukum bagaimana. Mengenai persidangan suatu Kasus. Atau saat saya nonton Drama It’s Okay it’s Love, saya belajar mengenai dunia psikologi. Atau dalam Drama Pinochio saya belajar dunia jurnalisme. Yong Pal dan The Doctor dengan ilmu kedokterannya. Pokoknya saya kagum banget deh, karena mereka mengemasnya dengan sangat detil.

Belajar Bahasa Inggris Lagi

Selama ini saya selalu berkutik dengan bahasa Jerman, sehingga saya sedikit lupa dengan bahasa Inggris. Dengan membaca Subtitle dalam bahasa Inggris bisa memperkaya kosakata bahasa Inggris saya lagi. Tidak cuma bahasa Inggris, lama2 saya juga belajar sedikit bahasa Korea.

Hiburan Untuk Orang yang Sibuk

Point yang ini memang sedikit tidak legal. Saya pribadi mengunduh file2 drakor agar bisa ditonton kapan saja. Sebagai pekerja, kita pasti tidak punya waktu untuk mengikuti Drama yang sedang tayang di TV, nah alternativ ini bisa sebagai hiburan. Secara ga punya wifi di Rumah :p

Pemainnya Cakep2

Ya memang sih pemainnya cakep2. Tapi mereka gak cuma modal cakep loh. Actingnya juga bagus2. Bahkan Mimik dan expresi mereka sangat pas. Walaupun banyak yang oplas alias oprasi Plastik, tidak semua kok yang mengambil jalan pintas ini untuk menjadi cantik atau ganteng.

Sinematografinya bagus

Saya bukan dari dunia perfilm-an, tapi saya tahu istilah itu dari adiknya teman saya yang kuliah di bidang perfilm-an. Di kampusnya bahkan berkaca mengenai sinematografi dari Drama Korea loh. Betul, kualitas gambarnya sangat bagus, seperti di Film layar lebar. Mereka sangat total membuat suatu Drama.

Ada yang mau nambahin lagikah? Kenapa kalian suka menonton Drama Korea?

Oia, aku punya banyak koleksi drakor loh, yang mau barter. Boleh…loh.

Clearance Sale Buku-Buku Bahasa Jerman

Hallo readers,

hari ini aku mau ngadain clearance sale untuk buku- buku bahasa Jerman milikku yang sudah tidak dipakai.

Ga cuma buku deh, ada juga benda-benda yang aku beli di Jerman. Check it out.

CD Klassenraum A1. Rp. 50.000 saja.

CD Klassenraum A2. Rp. 50.000 saja.

CD Klassenraum B1. Rp. 50.000 saja.

Kamus bahasa Inggris – Jerman, Jerman – Inggris dari Langenscheidt. Rp. 80.000 saja.

Kupluk Winter Rp.70.000 saja.

Look at this Video! Banyak Kata kerja dalam bahasa Jerman yg tidak beraturan. Bagaimana pengkonjugasiannya. Dengan alat ini mempermudah kalian dalam belajar. Rp.100.000 saja.kondisi baru.

Jaket Winter ini aku beli di Uniqlo tahun 2014. waktu itu harganya 600rb. Kalau kalian Minat, aku jual Rp.250.000 aja.

Minat?

Wa: 08990000178

Line: ethariesta

Things To Do in Dresden, Germany

Dresden, 18 Dezember 2016

Sebelumnya tidak pernah terpikir untuk mengunjungi kota cantik di belahan Eropa ini. Kota yang terletak di negara bagian Sachsen dan berbatasan dengan Negara Polandia dan Republik Cheko. Kota yang memiliki arsitektur seperti jaman abad pertengahan (Mittelalter), kota yang dahulunya adalah bagian dari Jerman timur, kota yang masih terdapat banyak anti Islam dan imigran. Apa saja yang wajib dikunjungi di Dresden?

1. Die Sächsische Schweiz (Bastei)

Apa itu Sächsische Schweiz ? Apa itu terletak di Swiss? Ini adalah sebuah tebingan setinggi 190 m di daerah Bad Schandau,Dresden. Dinamakan begitu, menurut literatur, karena nama tersebut dimunculkan oleh 2 orang mahasiswa asal Swiss, yang merasa tempat ini mengingatkan mereka akan kampung halamannya, jadilah diberi nama Swiss di negara bagian Sachsen, kemudian nama tersebut menjadi populer. 

Tebingan ini terletak di dekat sungai Elbe. Di Areal ini terdapat jalan setapak, yang biasa digunakan pengunjung untuk mencapai puncak tebingan. Agak melelahkan sih memang, tetapi, begitu sampai di atas, kamu pasti tidak akan berhenti bersyukur, bisa melihat pemandangan seindah itu. Bayangkan loh, tempat ini sudah dibangun sejak abad ke-18. 

Indah banget kan? Kapan-kapan aku buat videonya deh, biar bisa liat lebih banyak. 

Oia, jalan-jalan ke tempat ini murce loh, murmer banget. Apalagi, kalau kalian pergi dalam rombongan. Bisa sampai 5 orang, pakai Gruppenticket cuma 21€. Jadi perorang hanya membayar 4,2€ atau sekitar 60ribu PP. Start Form Dresden ya. Karena saat itu, kami sudah memiliki Monatskarten atau kartu kereta bulanan di kota Dresden. Sementara lokasi ini berada di zona 3, jadi kami hanya membayar untuk 2 zona. 

Rutenya adalah Start Form Dresden Hauptbahnhof naik Regionalbahn S1 ke arab Bad Schandau dan turun di Kurt Ort Rathen. Setiba di sana, kalian harus naik kapal penyebrangan, untuk menyebrang di sungai Elbe menuju lokasi. 1€ untuk sekali menyebrang, tapi kalau kalian membeli Tageskarte, harganya menjadi lebih murah, hanya 1,8 € saja.

Saat itu musim dingin, akan tetapi salju belum juga turun, jadi cuaca sangat dingin dan berangin, ditambah hujan dan berkabut. Awalnya kami berpikir bahwa kami tidak akan sanggup berada di luar dengan cuaca sedingin dan selembab itu. Namun itu tidak menghalangi kami untuk menuju ke atas. Tapi ternyata, saat kami menanjak, kami mengeluarkan banyak keringat, jadi sama sekali tidak dingin.

tapi ternyata, kabutnya membuat suasana menjadi sangat romantis loh. Di atas, kami seperti berada di atas awan.

Jadi tunggu apalagi. Selain bisa berolahraga, kalian juga bisa bertafakur alam melihat keindahan pemandangan di sana. 🙂

Next (next time ya, kalau ada waktu nulis lagi). 

Beispiel Schreiben A1 Teil 2

Bagian menulis untuk ujian A1 memang bagian yang cukup sulit untuk peserta ujian sertifikat Goethe A1, karena peserta dituntut untuk memproduksi kalimat. Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan contoh menulis untuk ujian A1 bagian kedua.

Wie schreibt man eine E-Mail oder einen Brief für die A1-Prüfung? Hier gebe ich ein Beispiel.

Contoh ujian diambil dari situs Goethe

 Sebelumnya saya terjemahkan terlebih dahulu situasi dan perintah-perintah yang terdapat di dalam Surat di atas.

“Anda ingin mengunjungi Dresden pada bulan Augustus. Tulislah Surat kepada bagian informasi turis:

-Alasan anda menulis Surat.

– Informasi mengenai Film, museum-museum dan program budaya.

– Alamat Hotel?

Anda diminta menulis 1-2 kalimat pada setiap poin dan menulis minimal 30 kata.
1. Warum schreiben Sie?( Alasan anda menulis Surat).

Tipps sebelum anda menulis, bahwa Surat yang ditujukan kepada suatu instansi merupakan Surat resmi (formellen Brief). Oleh karena itu, gunakanlah bahasa yang sopan, dengan menggunakan Sie-Form. Dan oleh karena anda belum mengenal instansi tersebut, perkenalkanlah diri anda secara singkat. Contohnya:

Sehr geehrte Damen und Herren,

ich heiße Martina und bin 23 Jahre alt. Ich komme aus Freiburg. Im August möchte ich Dresden besuchen.

2. Information über Film, Museen und Kulturprogramm.

Bukalah pembicaraan dengan sedikit basa-basi. Misalnya tunjukkan bahwa anda tertarik dengan Programm budaya yang ada di Dresden dan anda meminta informasi mengenai Film dan museum-museum atau acara budaya lainnya. Begini contoh kalimatnya:

Ich finde Kulturprogramm in Dresden interessant. Können Sie mir bitte die Informationen über die Filme oder Museen in Dresden geben?

3. Hoteladresse.

Tulislah sedikit Fantasie bahwa anda menginap di suatu Hotel dan mintalah alamat Hotel. Dengan sopan tentunya. Begini contohnya:

Ich habe ein Zimmer im Hotel Borg reserviert. Können Sie mir die Hoteladresse geben? (Können Sie mich bitte die Hoteladresse informieren?)

Terakhir akhirilah Surat tsb dengan harapan bahwa si penerima surat bisa membalas surat anda. Begini contohnya:

Auf Ihre Antwort freue ich mich.

Mit freundlichen Grüßen,

Marina.

Semoga membantu anda dalam mempersiapkan ujian A1. 🙂

Sehr geehrte Damen und Herren,

ich heiße Martina und bin 23 Jahre alt. Ich komme aus Freiburg. Im August möchte ich Dresden besuchen.

Ich finde Kulturprogramm in Dresden interessant. Können Sie mir bitte die Informationen über die Filme oder Museen in Dresden geben?

Ich habe ein Zimmer im Hotel Borg reserviert. Können Sie mir die Hoteladresse geben? (Können Sie mich bitte die Hoteladresse informieren?)
Auf Ihre Antwort freue ich mich.

Mit freundlichen Grüßen,

Marina.

My Reflections on 2016

So many blessing di tahun 2016 yang ga bisa disebut Satu persatu. 

Di mulai dengan awal tahun Januari, dimana terhitung sejak bulan itu saya bisa mencapai cita-cita saya untuk bisa menjadi guru bahasa Jerman di Goethe Institut. Perjuangan 6 bulan selama masa Ausbildung atau pelatihan ternyata gak sia-sia. Bisa merasakan menjadi pengajar di situ buat saya pribadi adalah sesuatu yang sangat menyenangkan, karena passion saya emang di situ, walaupun banyak rintangan juga.

Nikmat gak melulu soal uang. Di tahun ini juga masih selalu diberi nikmat sehat. Melihat berita-berita tentang orang yang menderita kanker atau berbagai penyakit lainnya membuat saya sangat aware tentang kesehatan. Saya takut dimasa tua nanti dijangkiti penyakit. Naudzubillahi mindzalik. Semoga di tahun 2017 ini saya bisa rutin berolahraga dan lebih Konsisten dalam menjaga kesehatan. Aamiin

Bersyukur juga hidup di negara yang masih bisa dibilang “aman”, jauh dari konflikt, bisa tidur dan makan yang enak. Bisa kumpul bersama keluarga ditengah kesibukan, punya temen-temen yang care. 

Akhirnya di bulan Desember ini tugas online DLL selesai. Hupfff…bisa nafas sebentar. Dan satu nikmat lagi yang tidak disangka-sangka yaitu bisa menginjakkan kaki lagi ke Jerman dan sekitar nya. Terima kasih kepada atasan saya yang mempercayakan saya berangkat ke sana dan Alhamdulillah membawa hasil yang baik. GW LULUS C1 dengan penuh perjuangan. 🙂

Akhir kata saya ucapkan. Segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat di tahun 2016. Dan saya tutup dengan harapan-harapan saya untuk tahun 2017. Semoga di tahun 2017:

  • Saya bisa menjadi pribadi yang lebih positif, 
  • Ditambahin lagi stock sabarnya,
  • Sifat-sifat negatif bisa saya perbaiki atau minimal saya kurangi,
  • Ga mau cepet menilai orang dari sikapnya, 
  • Bisa memperbaiki ibadah, kalau bisa lebih tepat waktu sholatnya, 
  • Jangan keseringan menunda-nunda pekerjaan, 
  • Bisa mengurangi kecanduan bermain sosial media, #noted
  • Bisa lebih sabar menghadapi macam-macam orang ketika diperjalanan,
  • Bisa lebih amanat menjalankan tugas sebagai guru atau menyampaikan ilmu.
  • Bisa lebih Adil memperlakukan murid-murid,
  • Bisa ngurangin kecendrungan belanja online maupun non online, intinya jangan boros. Inget! Beli barang yang kamu butuhkan saja, ta!
  • Bisa lebih bersyukur lagi, kurangin mengeluh!
  • Dan semoga hal yang belum bisa terlaksana di 2016 bisa tercapai di 2017. Allahuma aamiin. 

Ein Beispiel der Statistikbeschreibung C1

Bei der C1-Prüfung sollen die Prüflinge eine Statistik beschreiben. Hier Teile ich meine Statistikbeschreibung aus meinem C1-Kurs. Wenn es Fehler auftaucht, bitte ich um Ihre Korrektur.

Hier ist ein Beispiel aus Übungsatz 01, Goethe Zertifikat C1.

Kinder beurteilen Kinder.

1. Welche Ergebnisse der Grafik finden Sie besonders interessant oder überraschend?

Die Statistik stellt die Beurteilung der Kinder von den anderen Kindern in Deutschland dar. Die Befragten waren Kinder im Alter von 8 bis 11 Jahren. Die Daten wurden von Globus erhoben und erfolgen im Prozent.

Die Statistik ist für mich erstaunlich. Nach der Angabe der Grafik ist es nicht nur für die Jungen, sondern auch für die Mädchen sehr wichtig, dass sie immer zu ihren Freunden halten. Es ist auch festzustellen, dass 86 bis 90 % der Kinder viel Wert auf die Hilfsbereitschaft legen. Meines Erachtens fühlen die Kinder sich nicht allein, wenn die anderen ihnen in schwierigen Situationen helfen. „Gut in der Schule sein“, „gut aussehen“ und „sportlich sein“ liegen im mittleren Feld. Meine Auffassung dazu ist, dass die Kinder weniger Wert auf diese Dinge legen. Wichtiger für sie ist, dass sie Freude mit Freundschaften haben. Hierzu kann man als gutes Beispiel anführen, dass sie viel lachen und lustige Freunde haben.

2. Welche Rolle spielt das familiäre Umfeld für die Entstehung und Entwicklung von Freundschaften?

3. Welche Bedeutung haben Freunde allgemein für unser Leben?

Freunde spielen eine bedeutsame Rolle nicht nur für die Kinder, sondern auch für die Erwachsenen. Menschen brauchen ein gutes soziales Umfeld, um ihre Schwierigkeiten zu teilen oder um die Unterstützung zu bekommen und zu geben.

4. Welche Eigenschaften bei Ihren Freunden waren Ihnen in Ihrer Kindheit wichtig?

Als ich noch klein war, hatte ich viele Freunde. Wir haben oft draußen gespielt. Für mich persönlich halte ich die Ehrlichkeit, die Hilfsbereitschaft und den Spaß bei der Freundschaft für am wichtigsten. Wenn jemand mich anlügt, wird es für mich schwer, unsere Beziehung zu verbessern. Ich brauche auch Freunde, die immer für mich da sind. Nicht nur in meinen guten Zeiten, sondern auch in meinen schlechten Zeiten.

5. Was kann ein Kind zu einem Außerseiter machen?

Zum Glück hatte ich viele Freunde, so war ich keine Außerseiterin. In Bezug auf Außerseiter spielt die Familie eine große Rolle. Die Eltern sollten ihre Kinder nicht begrenzen und ihnen vorschreiben, mit wem sie spielen dürfen. Natürlich sollen die Kinder nur mit lieben Kindern spielen. Meine Überzeugung ist, dass die Kinder draußen spielen dürfen oder sich nicht immer nur mit Ipad oder Smartphone beschäftigen sollten.

Zusammenfassung

Abschließend lässt sich dazu anmerken, dass schöne Erinnerungen aus der Kindheit länger halten, wenn die Kinder erwachsen sind. Lassen Sie die Kinder ihre Umfelder näher kennen lernen.

Ich hoffe, dass ich Ihnen helfen kann. Auf Ihre Feedbacks freue ich mich :).