Surat cinta untuk mamah di surga

Apa yang ku berikan untuk mama… untuk mama tercinta

Lagu itu terus berputar di kepalaku. Karena sampai saat ini aku masih belum bisa memberikan yang terbaik untuk mama.

Semasa mamah hidup, aku bukanlah anak yang penurut. Sering kali aku tidak mengindahkan perintahnya. Bahkan untuk sekedar pergi ke warung untuk membeli sabun mandi yang habis. Ya, benar. Aku yang dahulu bukanlah anak yang rajin. Aku sangatlah pemalas.

Nilai akademisku di sekolah memang cukup membuat beliau bangga. Tetapi “attitude” ku sangatlah kurang di matanya. Mamah hanyalah seorang tamatan SMA. Beliau pernah mengawali karirnya menjadi karyawan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Tetapi, karena termakan zaman, posisi mamah pun tersingkir. Karena beliau tidak menguasai komputer.

Sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, mamah tidak lagi bekerja. Ya, dia menjadi seorang ibu rumah tangga saat itu. Mamah tidak lihai dalam memasak maupun melakukan pekerjaan rumah, karena dahulu kami memiliki seorang asisten rumah tangga.

Begitu tidak lagi bekerja, mungkin mamah mengalami kecanggungan ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah. Tak heran, aku dan kakak perempuanku sering sekali disuruhnya untuk membantu.

Aku, yang ketika itu masih kecil. Belum mengerti makna sebuah tanggung jawab. Pikiranku hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Saat itulah aku selalu kesal, karena aku adalah seorang anak yang pemalas.

Sangat berbeda dengan kakak perempuanku yang sangat rajin dan patuh mendengarkan semua perintahnya.

Hingga suatu hari ia sakit dan terbaring selama 3 bulan di sebuah rumah sakit umum nasional di Jakarta. Saat itu aku berumur 20 tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia pergi setelah menjalani operasi kista yang dideritanya.

Sedih sekali rasanya, ketika mengetahui mamah harus pergi meninggalkan kami semua. Aku merasa masih sangat membutuhkan kasih sayangnya. Aku bahkan belum sempat membuatnya bahagia. Yang aku ingat hanya ketidakcocokan diantara kami.

Bahkan sampai akhir hayatnya, aku bukanlah anak yang berbakti. Terkadang aku merasa sangat lelah untuk menjaganya di rumah sakit.

Mamah, kalau saja waktu bisa diulang kembali, aku ingin sekali menunjukkan rasa sayangku kepadamu. Seperti yang orang lain lakukan kepada ibu mereka.

Aku bahkan sangat iri, ketika mereka menceritakan atau memasang foto mereka dengan ibunya di jejaring sosial. Mamah, aku yakin kau sudah bahagia di alam sana. Aku hanya bisa mengirimkan doa untukmu. Semoga saja itu bisa menjadi penerang di alam kuburmu. Allahumma aamiin

Maafkan aku mah. Aku sangat menyesal dengan semua yang telah kulakukan padamu. Kini anakmu telah dewasa dan telah menyadari semua kekhilafannya.

I love you mah

Advertisements

One thought on “Surat cinta untuk mamah di surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s