Keputusan Merantau

Gue : “Ayah, kalau lulus nanti aku pokoknya mau Ke Jerman dulu”
Ayah: “Mau ke Jerman? Mau ngapain?”
Gue: “Aku kan kuliahnya ngambil bahasa Jerman tuh, nah kalau aku tinggal di sana, aku pasti bisa belajar langsung sama nativ nya di sana. Terus, sehari-hari pasti mau gak mau aku bakalan ngomong bahasa Jerman. Kalau gitu, pasti aku belajar jadi lebih cepet”.
Ayah: “caranya gimana?”
Gue: “ada program gitu namanya Aupair, nah ini program semacam homestay gitu. Jadi kita tinggal di rumah orang Jerman,
kursus bahasa di Jerman dibayarin sama mereka, dengan syarat kita bantuin mereka untuk jagain anaknya”
Ayah: “Ngapain, kamu udah sekolah tinggi-tinggi, ke Jerman malah jadi Baby Sitter. Lagipula kamu itu perempuan. Bahaya ah”.

Kira-kira begitulah percakapan gue sama bokap, waktu awal gue bilang, gue pengen ke Jerman. Bokap menentang keras keputusan gue, yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Tapi gue ga pernah nyerah buat ngewujudin mimpi gue. Buat gue, yang ambil kuliah Bahasa Jerman, dan gue sangat menyukai budaya, bahasa dan sejarahnya, mengunjungi dan menyelami langsung budaya Jerman adalah suatu kewajiban.

Saat itu adalah percakapan tahun 2010, saat bokap masih ada dan gue masih bisa mendiskusikan tentang rencana-rencana masa depan gue. 🙂

Jelas, alasan penolakan beliau sangat masuk akal. Semua orang yang tidak mengetahui secara mendalam program itu pasti akan memicingkan mata menandakan rasa ragu.

Hampir kurang lebih 2 tahun nungguin kelulusan, wisuda yang gue tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dan guepun mulai menyusun rencana yang sempet tertunda. Mulai dari sering aktif cari-cari calon keluarga asuh di sana, tiap hari ngecek email. Tapi yang didapet malah “Absage” alias penolakan. Alasannya simple, orang Jerman masih takut sama orang yang berjilbab. Pernah dapet balesan yang extrem malah “maaf saya tidak suka sama gaya berpakaian kamu”.

Tapi sabar itu kuncinya, sampe akhirnya Allah mempertemukan gue dengan keluarga X yang mau terima gue dengan gaya berpakaian gue. Mereka baik, mereka mau membayarkan kursus gue. Tapi pasti ada positif negatiflah ya…dan gue gak mau sebutin itu di sini.

Keputusan buat merantau itu keputusan yang berat dan gak sembarangan. Tanya lagi sama diri kamu sendiri. Apa kamu siap tinggal jauh dari keluarga? Apa kamu siap jauh dari temen-temen, pacar? Apa kamu siap harus kehilangan makanan Indonesia? Apa kamu siap sama budaya yang jauh beda sama negara kamu? Apa kamu siap harus hidup mandiri? Semua kamu yang siapin sendiri, biasanya selalu ada mama yang nyiapin makan. Pokoknya semua udah terima beres.

Nah pikirin lagi tuh sebelum berangkat. Jangan cuma ngebayangin indah-indahnya aja. Kayak misalnya “wah asik ke Jerman bisa jalan-jalan, bisa keliling Eropa juga”, “wah siapa tau di sana bisa dapet bule”, “di Jerman kan transportasinya enak, rapi, gak macet”.

Sebelum kamu berangkat, kamu harus bener-bener nyiapin mental. Disini kamu bener-bener dituntut untuk menjadi dewasa. Kamu mau nangis, nagislah. Rasanya kangen sama keluarga, temen-temen, atau bahkan pacar tapi ga bisa pulang, karena ga ada cukup uang untuk pulang ke rumah. Lagipula ga ada waktu juga yang pas untuk pulang, bisa dikatakan nanggung.

Jangan sampai kamu sudah terlalu jauh berekspektasi, begitu tiba di sana, hal yang sudah kamu bayangkan tidak seperti yang kamu harapkan. Ini nih biasanya yang bikin orang gagal survive buat merantau. Karena apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mereka gak kuat, stress, ujung-ujungnya minta pulang, tanpa mendapatkan Ziel a.k.a tujuan yang pengen dicapai.

Terus terang, gue pun awalnya terlalu jauh berekspektasi. Gue udah dapet sedikit info tentang situasi di sana, tetapiii… begitu gue terjun langsung dan mengalami langsung. Gue pun tahu semua secara detail. Tapi gue coba terus sabar, sambil terus bilang ke diri sendiri “yang ngotot pengen ke Jerman siapa?”. Nah, gue sendiri kan. Bukan disuruh orang tua atau siapapun. “Yaudah ta, lo tanggung jawablah”.

Yup. Cuma itu caranya buat terus survive di sana. Balikin lagi ke tujuan awal. Pokoknya selalu coba buat refleksiin diri sendiri. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Keputusan Merantau

  1. Ka, boleh minta id line nya ga? Mau tanya tanya ttg au pair ka hehe. Aku udah add twitter kaka tapi gabisa kirim DM -_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s