Bagaimana Kehidupan Muslim di Jerman

Masih ingatkah kalian dengan kasus penembakan kantor media Charlie Hebdo, 7 Januari 2015 lalu di Paris? Dan pemberitaan penyanderaan ISIS? Pemberitaan-pemberitaan negatif mengenai kelompok islam garis keras ini tentunya membuat warga muslim di seluruh Eropa menjadi resah. Banyak pertanyaan bermunculan. Apakah saya akan mengalami kesulitan dalam mengajukan visa, jika saya adalah muslim? Bagaimana dengan kehidupan muslim di Jerman? Apakah mereka mengalami diskriminasi di sana?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kali ini saya ingin mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

10615434_978990598783521_6595345834133273299_n

Perkenalkan nama saya Riesta Palupi Hasanah, saya adalah alumni pendidikan bahasa Jerman salah satu universitas negeri yang ada di Jakarta. Keputusan saya untuk mencoba merantau di Jerman adalah keputusan yang tidak main-main. Awalnya saya untuk mencoba mengajukan permohonan sebagai aupair berjilbab di Jerman. Berkali-kali saya mengalami penolakan dari keluarga asuh, karena mereka tidak menginginkan seorang aupair berjilbab. Ok, saya mengerti, namun ini bukanlah halangan bagi saya. Saya tidak menyerah dan saya yakin, semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Dalam penantian yang lama sayapun akhirnya menemukan keluarga asuh yang mau menerima saya.

Ketakutan tentunya datang bermunculan, bagaimana jika saya mengalami diskriminasi di Jerman? Terkait dengan pemberitaan-pemberitaan negatif yang dimuat di media, islam di mata internasional semakin buruk. Namun, saya sebagai muslim selalu mencoba mencontohkan menjadi muslim yang baik.

Bagaimana Rasanya Menjadi Kaum Minoritas di Jerman?

Berhijab di negara Jerman, yang merupakan negara minoritas muslim memang agak sulit. Setiap kali saya pergi ke suatu kota di Jerman, akan ada banyak orang yang memandang penampilan anda, atau bahkan mengomentari. Itu hal yang wajar, karena kami adalah kaum minoritas. Menanggapi hal ini saya hanya bisa melemparkan senyum. Untungnya, daerah sekitar tempat tinggal saya, yaitu di Wetzlar, sebuah kota kecil di negara bagian Hessen, sudah banyak warga Turki yang tinggal di sana. Setiap kali saya pergi ke tempat kursus, saya menemui banyak warga muslim berjilbab di dalam bus. Mereka mengucapkan salam, dan bahkan saya berkenalan dengan 2 orang Turki. Mereka sangat baik, bahkan mereka membayarkan biaya bus saya.

Bagaimana Memilih Makanan di sana?

usdailyreview.com
usdailyreview.com

Seperti kita tahu, kaum muslim diharamkan memakan makanan yang berasal dari daging babi maupun produk-produk dari babi seperti gelatin. Lalu bagaimana cara memilih makanan yang baik? Sebelum memakan daging, saya biasanya bertanya terlebih dahulu, “Was für ein Fleisch ist das? atau daging jenis apakah ini?” atau sebelum membeli suatu produk di supermarket, saya biasanya membaca terlebih dahulu komposisi yang tertera di label belakang produk. Apakah barang tersebut mengandung “Schweinfleisch” atau daging babi atau tidak? Untungnya, keluarga asuh saya sudah memahami apa-apa saja yang diharamkan dan tidak. Jadi, untuk makan di rumah, saya tidak khawatir. Karena biasanya Gastfamilie atau keluarga asuh saya akan menginformasikan daging apa yang mereka masak. Sementara, untuk hal mendetail seperti “bagaimana dengan wajan? kan bekas menggoreng daging babi atau sosis babi?” untuk pertanyaan itu saya percayakan saja pada yang di atas, toh wajannya sudah dicuci. 🙂

Memang sebaiknya kita sebagai muslim memilih produk yang berlabel “halal”, namun sulit sekali mencari produk berlabel “halal” di supermarket-supermarket umum di Jerman seperti “Rewe, Aldi, ataupun Lidl“. Sebagai jalan aman, saya biasanya membeli barang di toko Asia maupun toko Turki, tapi jika terdesak, tidak jarang saya membeli di toko supermarket biasa. Atau sebagai jalan aman, saya membeli produk “vegetarisch” atau vegetarian, kan aman tuh, mereka tidak mungkin menggunakan produk dari babi.

Bagaimana dengan Anjing?

http://www.kybun.ch/
http://www.kybun.ch/

Anjing merupakan salah satu binatang peliharaan yang sangat populer di Jerman. Setiap ke luar rumah untuk mencari frische Luft atau udara segar bersama anak-anak, sangat sering saya menemui orang-orang yang berjalan-jalan sore atau pagi sambil membawa anjingnya. Bahkan mereka membawa anjingnya ke dalam pusat perbelanjaan. Pernah suatu ketika saya sedang berada di Eiscafe atau cafe es cream, seorang pemilik anjing berbagi ice cream dengan anjingnya. Itu pengalaman yang sangat lucu bagi saya.

Seperti kita tahu, kaum muslim dilarang untuk menyentuh anjing, karena dikhawatirkan jika kita menyentuh air liurnya, itu merupakan najis yang sangat berat dan akan mengkhawatirkan untuk shalat. Oleh karena itu saya menghindari untuk menyentuh anjing. Biasanya saya beralasan bahwa saya takut anjing, padahal menurut saya anjing-anjing di sana sangat lucu-lucu dan jinak. Pernah suatu ketika saya diminta untuk menyentuh anjing seorang tetangga saya, dan saya menolaknya, dengan alasan takut. Kemudian pemiliknya berkata, “tidak apa-apa, anjing saya sangat jinak, coba saja”. Saya tetap meolaknya sambil berkata “Man darf den Hund nicht anfassen“, kami diharamkan untuk menyentuh anjing, kemudian pemiliknya merasa tersinggung dan berkata “Ja, der Hund ist ein dreckiges Tier”/”ya, anjing memang hewan yang kotor”. Kemudian saya merasa sangat tidak enak.

Bagaimana Dengan Sholat?

Untuk sholat, saya rasa bukan halangan. Perbedaan waktu Jerman, terutama pada saat musim panas atau Sommer, dimana pada saat itu matahari bersinar sangat lama, bahkan adzan maghrib dimulai pukul 21.30, waktu Jerman. Untuk mengecek waktu sholat, saya biasanya mencari informasi bulanan di Islamic Finder. Di situs itu saya hanya memasukkan nama kota, dimana saya tinggal. Atau kalian juga bisa mendownload applikasi di Ios atau Android. Kebetulan, keluarga asuh saya juga memberikan saya waktu untuk menjalankan shalat. Mereka sangat tolerir.

 Bagaimana Menjalankan Puasa di Jerman?

Ini yang saya benar-benar merasakan kehilangan, homesick, heimweh. Saya benar-benar merasakan perbedaannya, dimana saat di rumah, menjelang buka puasa pasti sudah tersedia makanan pembuka yang nikmat, seperti es buah, gorengan, kolak, kue-kue. Kemudian kami sekeluarga makan dengan lahap, bahkan terkadang sampai kekenyangan 😦 . Di Jerman saya hanya berbuka puasa sendirian, makanan pembuka hanya ada puding atau buah, lalu kemudian langsung makan menu utama. Kurang seru!.

Selain itu, saat saya di Jerman, bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, dimana matahari bersinar lebih lama dan adzan maghrib berkumandang pukul 21.30. Adzan subuh berkumandang sekitar pukul 03.00, jadi saya harus makan sahur sekitar pukul 02.00. Kemudian satu lagi yang menjadi cobaan di sana adalah, waktu isya yaitu sekitar pukul 23.00 atau bahkan 23.30. Nah, jadi kebayang kan gimana mau jalanin shalat tarawihnya. Dengan alasan itu, akhirnya sayapun banyak melewatkan waktu shalat tarawih. Jangan ditiru ya!

Perayaan Lebaran

Lebaran di Muenchen
Lebaran di Masjid Indonesia Muenchen

Merayakan hari raya Idul Fitri di negeri orang, jauh dari keluarga dan sanak famili. Saya merasakan benar-benar kehilangan. Tradisi lebaran yang biasanya saya jalankan, terasa berat ketika harus jauh dari keluarga. Saat perayaan Lebaran saya dan teman saya pergi ke Masjid Islam di Frankfurt. Sebelum berangkat, saya menyempatkan video call dengan keluarga, tanpa terasa perasaan sedih keluar begitu saja. Saya benar-benar merasakan hikmadnya memintaa maaf saat lebaran. Maka bersyukurlah kalian yang bisa merayakan lebaran bersama keluarga besar. Itu bagi saya merupakan nikmat tiada tara. Di setiap kota pastinya ada masjid Indonesia, jadi kalian ikut aja, selain bisa kumpul sama warga muslim Indonesia, kalian juga bisa menikmati makanan Indonesia seperti opor, rendang, atau ketupat.

sekian sharing pengalaman pribadi saya di sana. Sekali lagi saya tekankan, jangan takut, di Jerman bukan negara yang rasis. Sejauh ini saya tidak pernah mengalami diskriminasi, mereka sangat toleransi dan menghargai perbedaan. Terbukti dengan banyaknya orang asing yang ada di Jerman. Dan yang lebih meyakinkan lagi, dengan adanya pernyataan dari Kanselir Jerman, Angela Merkel baru-baru ini yang menyatakan bahwa Islam merupakan bagian dari Jerman.

Advertisements

4 thoughts on “Bagaimana Kehidupan Muslim di Jerman

  1. “Di setiap kota pastinya ada masjid Indonesia” <– Wow keren ya!
    Banyak kah warga Indonesia disana Frau Etha?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s